Header Ads

Fenomena Konsumen Kelas Menengah di Indonesia

EntrepreneurKreatif.Com-Saya sering merasa geli ketika memerhatikan tingkah polah para ‘orang kaya baru’ yang mulai bermunculan di Indonesia sejak 2010 silam. Di mal, di bandara, di hotel-hotel berbintang, di bioskop, hingga di kafe-kafe, sering sekali kita jumpai para ‘orang kaya baru’ ini yang selalu menenteng barang-barang canggih seperti smartphone, sebagai bentuk pencitraan pribadi, tanpa bisa memanfaatkan fungsi smartphone tersebut secara maksimal, selain sekedar untuk memperbarui status dan foto di Facebook dan Twitter. Inikah yang disebut Fenomena Konsumen Kelas Menengah di Indonesia? 



Apa itu Konsumen Kelas Menengah? Bank Dunia mendefinisikan yang disebut Konsumen Kelas Menengah adalah penduduk dengan pengeluaran US$2 hingga US$20.Menurut studi Bank Dunia, kalangan kelas menangah ini terbagi empat kelas. Pertama kelas menengah dengan pengeluaran hariannya US$2-US$4 atau per bulannya sekitar Rp1-1,5juta (38,5 persen). Kedua, kelas menengah dengan pengeluaran hariannya US$4-6 atau  Rp1,5 -2,6 juta per bulan (11,7 persen). Ketiga konsumen kelas menengah dengan pengeluaran hariannya US$6-US$10 atau Rp2,6-5,2 juta  per bulan (5 persen) serta golongan menengah yang pengeluaran hariannya US$10-US$20 atau Rp5,2-6 juta perbulan (1,3 persen). Peningkatan di kelas menengah didominasi oleh mereka yang berada di tingkat pengeluaran US$2-6 per hari. 

Peneliti Senior LPEM Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Mohamad Ikhsan menyebut, golongan menengah banyak terdapat di perkotaan. Dua pertiga penduduk perkotaan adalah kalangan menengah, sementara di pedesaan kalangan menengah hampir separuh dari penduduk.  Kelas menengah sebagian besar terdiri dari profesional di sektor jasa dan industri. Kebanyakan mereka tidak ingin masuk dalam kepemilikan lahan serta entrepreneur di luar pertanian. Sebagian besar kalangan menengah di Indonesia adalah pengusaha di sektor informal dan jumlahnya relatif kecil.

Dari sisi demografi, kalangan menengah cenderung memiliki ukuran keluarga relatif kecil. Mereka umumnya juga memiliki mobilitas tinggi dalam hal pekerjaan dan tempat tinggal. Kalangan menengah juga lebih cenderung menghabiskan dana untuk pendidikan dan layanan kesehatan yang berkualitas. "Kalangan ini merespon kualitas yang dibutuhkan kalangan menengah yang biasanya kritis." Sedangkan kalangan ini memiliki dampak terhadap ekonomi, yaitu adanya lonjakan permintaan, dari permintaan bahan makanan menjadi barang tahan lama. Ia mencontohkan permintaan barang elektronik, kendaraan seperti motor yang meningkat tajam.

Yang berlangsung di Indonesia saat ini adalah fase yang telah dilalui beberapa negara, diantara Jepang dan Korea Selatan. Pendapatan per kapita penduduk Indonesia sebesar $3,000 atau sekitar Rp 30 Juta pada 2010 lalu, telah mengangkat jutaan orang dari jurang kemiskinan. Sekitar 70% ekonomi Indonesia ditopang oleh kelas konsumen baru ini. Darimana mereka memeroleh pendapatannya? Majalah Tempo Edisi 20-26 Februari 2012 lalu menyebutkan beberapa sumber pendapatan kelompok ini, yang dilansir dari data BPS 2011. Industri pengolahan/ manufaktur merupakan penyumbang terbesar dengan porsi sebesar 24,3%, diikuti oleh pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan sebesar 14,7%. Di posisi ketiga ditempati oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran (13,8%). Pertambangan dan penggalian berada diurutan keempat dengan 11,9%, diikuti oleh sektor konstruksi dan jasa, masing-masing sebanyak 10,2%. Diurutan keenam adalah bidang keuangan dan real estate sebesar 7,2% , dan di posisi ketujuh diisi oleh bidang pengangkutan dan komunikasi sebesar 6,6%. Dan di urutan terakhir diisi oleh sektor listrik, gas, dan air bersih sebesar 0,8%. Pada tahun 2025, diperkirakan komposisi jumlah penduduk usia produktif 15-64 tahun di Indonesia akan mencapai titik maksimal. Jumlah penduduk yang bekerja (disebut rasio daya dukung ekonomi) berada pada posisi tertinggi atau 69,5% dari total populasi. Berkah ini berpotensi menurun pada 2050. Di titik ini total rsio ketergantungan meningkat menjadi 0,573% atau 57,3% dari total penduduk. Rasio ketergantungan anak menurun dibanding pada 2025, tapi rasio ketergantungan lanjut usia meningkat menjadi 26% dari total jumlah penduduk.(Majalah Tempo Edisi 20-26 Februari 2012).

Wajah-Wajah Konsumen Kelas Menengah

Inventure dan Majalah SWA mengadakan studi tentang kelas menengah di Indonesia. Mereka membagi dan mengidentifikasikan delapan karakter konsumen kelas menengah di Indonesia. Delapan karakter itu terdiri dari :

The Aspirator
Mencerminkan karakter idealis, memiliki tujuan jelas dan visi jangka panjang, peduli terhadap permasalahan sosial ( lingkungan, hak asasi, demokrasi) , dan mempunyai keinginan untuk memberi aspirasi terhadap komunitasnya. Mereka juga aktif dalam mengelola aset dan cenderung risk taker. Para The Aspirator ini berpikiran terbuka terhadap globalisasi dan nilai-nilai yang bersifat universal, memiliki visi jangka panjang, senang memperluas wawasan melalui networking, mengejar pencapaian prestasi pribadi (self achievement), update terhadap informasi, wawasan, dan trend teknologi terkini. Mereka relatif puas dengan kondisi finansial saat ini dan umumnya segmen ini terdiri dari kalangan profesional mapan/ senior.

The Performer
Umumnya terdiri dari kalangan profesional dan pengusaha muda. Mereka berpola pikir kritis, cenderung ingin menjadi bagian dari komunitas, berupaya mencapai status ekonomi yang lebih baik dan selalu memimpikan kebebasan finansial. Mereka selalu optimis dan melihat kesempatan sebagai sebuah tantangan. Mereka senang memanfaatkan IT dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun update terhadap informasi, wawasan, dan trend teknologi terkini, mereka relatif tidak mudah puas.

The Expert
Career-oriented, peduli untuk terus meningkatkan keahlian hingga menjadi pakar di bidangnya, memiliki semangat kekeluargaan yang tinggi, menjunjung tinggi norma-norma sosial dan nilai kekeluargaan, menghindari resiko, dan memimpikan kebebasan waktu merupakan ciri-ciri mereka. Segmen ini terdiri dari karyawan dan para profesional yang menghuni Kuadran Kiri dari The Cashflow Quadrant, seperti dokter, pengacara, konsultan, akuntan, dan lain-lain.

The Climber
The Climber adalah orang-orang yang umumnya terdiri dari karyawan level menengah/ supervisor. Mereka memiliki semangat kekeluargaan yang tinggi (traditional values) cenderung menjadi pahlawan bagi keluarganya. Mereka berupaya mencapai status ekonomi yang lebih baik dengan berpindah-pindah kerja. Kebebasan dalam hal waktu dan finansial merupakan impian.

The Settler
Segmen ini umumnya terdiri dari para pedagang sukses skala mengan dan besar yang sedikit bersosialisasi, tidak meng-update informasi terkini, tapi mempunyai banyak uang. Mereka relatif puas dengan kondisi keuangannya saat ini dan senang membantu sesama. Mereka memiliki banyak aset namun masih konservatif dalam mengelolanya.

The Flower
Kelompok ini umumnya kurang berpendidikan dan tidak mengenal teknologi serta kurang peduli dengan perkembangan trend terkini. Dalam menghadapi perubahan ini, mereka mengacu ke norma dan agama. Mereka menjalani kehidupan dengan mengalir apa adanya. Segmen ini didominasi oleh PNS dan ibu rumah tangga.

The Trendsetter
Mencerminkan kelompok yang senang menciptakan trend dan inovasi. Kelompok ini mapan dalam hal keuangan, namun pendidikannya kurang. Mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan selalu berusaha mengikuti trend fashion dan gadget mutakhir. Para first jobber dan pelajar/ mahasiswa dari kalangan mengengah ke atas merupakan bagian dari segmen ini. Mungkin para sosialita juga dapat dikategorikan kelompok ini.

The Follower
Kelompok terakhir ini terdiri dari para ababil alias abg labil. Biasanya para pelajar SMA dan Mahasiswa dari kalangan menengah. Mereka pandai bersosialisasi dan mengikuti trend terkini merupakan bagian penting agar dapat diterima oleh lingkungannya. Mereka mengekpresikan diri melalui barang-barang bersifat lifestyle. Mereka adalah tipe orang-orang yang saya singgung di tulisan pembuka.
Si Parasit Kapitalisme?

Kelas Menengah di Indonesia adalah ‘kelas penikmat’, meminjam istilah Yuswohadi, seorang pengamat bisnis dan pemasaran. Dengan tingkat konsumsi yang tinggi terhadap berbagai bentuk kenikmatan: mulai dari makanan enak, musik yang menyejukkan, tontonan yang menghebohkan, liburan yang menyegarkan, hingga merek-merek mahal yang memanjakan kenarsisan.

Mereka adalah kaum hedonis yang bekerja keras untuk membangun karir cemerlang untuk mendapatkan gaji tinggi dan kelimpahan ekonomi. Mereka berupaya keras mengadopsi teknologi dan menyerap sebanyak mungkin informasi sebagai senjata untuk membangun bisnis dan mencapai kemakmuran ekonomi. Mereka yang sebagian besar terdiri dari anak muda itu tidak begitu tertarik dengan masalah politik di dalam negeri. Bagaimana meroketkan karir, mengembangkan bisnis pribadi, membangun kompetensi profesional, atau menjalin networking dengan komunitas profesi secara global adalah isu-isu yang lebih penting bagi mereka dibanding isu-isu korupsi yang membelit Indonesia, hukuman berat bagi pencuri sandal jepit, atau Pemilu 2014 yang kian absurd. Tak heran jika Tempo mencap para kelas menengah ini sebagai parasit yang menempel pada tubuh kapitalisme.
Maraknya kaum Sosialita yang identik dengan kebiasan mengonsumsi barang-barang impor mewah juga merupakan salah satu dampak membaiknya ekonomi Indonesia yang saat ini merupakan terbaik kedua di dunia setelah Cina. Apalagi, ekonomi Indonesia memang ditunjang besarnya konsumsi di dalam negeri. Di AS, kehadiran sosialita sudah mulai ada sejak awal 1800-an. Kata sosialita sendiri asalnya dari Negara Abang Sam, yaitu socialite alias social elite. Mereka yang termasuk dalam kalangan itu memiliki garis keturunan keluarga kaya, bahkan ketika leluhurnya masih berada di tanah Eropa. Pada abad ke-21, pamor sosialita muncul kembali ketika ahli waris Hotel Hilton, Paris Hilton, membuat reality show hingga membangun bisnis mode.

Di Indonesia sendiri, fenomena sosialita mulai heboh awal 2012. Sebagian masyarakat Indonesia masih memandang negatif terhadap kelompok ini. Mereka dianggap sebagai ibu-ibu rumah tangga yang tidak punya kerjaan dan hanya bisa menghabiskan uang suami untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Namun, banyak juga yang memanfaatkan mereka untuk meraup keuntungan. Sosialita memang menjadi target market yang cocok bagi para desainer busana, sepatu, dan tas. Selain karena mereka selalu ingin terlihat berbeda dari yang lain, the newest fashion items pun menjadi hal yang wajib mereka miliki. Fashion adalah penanda kelas sosial yang paling nyata. Kelompok sosialita menjadikan tas mewah sebagai penanda status sosial mereka. Kalimat Consumo Ergo Sum, aku mengonsumsi, maka aku ada, sangat identik dengan mereka.

Kelas Menengah dan Politik

Rocky Gerung, seorang pengajar filsafat dari Universitas Indonesia, dalam kolomnya di Majalah Tempo Edisi 20-26 Februari 2012 menulis mengenai perilaku konsumen kelas menengah ini dalam hal politik. Gerung menyatakan bahwa tahap kematangan politik dan kondisi kejiwaan para ‘orang kaya baru’ di Indonesia ini masih kuat diarahkan oleh lingkungan komunalnya. Dalam hegemoni kultural itulah pendapat politik kelas menengah tersandera. Kelas Menengah di Indonesia tidak mencari rasa aman pada sistem institusi modern, melainkan pada nilai-nilai transendental.Mereka mampu beli Alphard, tapi selalu mengeluh soal kemacetan ibukota. Dalam kolomnya yang cukup menohok itu, ia mengajukan satu pertanyaan penting: “ Bila jumlah mereka mendekati 50 juta jiwa, berpenghasilan Rp 50 juta setahun pada 2014, cukup mandirikah kelas ini dalam pemilihan presiden nanti? Seandainya ‘sihir’ politik uang masih akan merajalela pada Pilpres 2014 nanti, sanggupkah kelas menengah ini menatap jauh kedepan, pada harapan sistem kebijakan publik yang bersih, dan karena itu mau melakukan pilihan politik baru?”

Merlyna Lim, seorang peneliti masalah media baru dari Arizona State University di Amerika Serikat dalam risetnya yang berjudul “In Curhat We Unite”, menemukan bahwa media sosial di Indonesia bukanlah alat demokratisasi dan perubahan sosial. “ tak kurang dari 99% gerakan yang mencoba meniru Bibit-Chandra dan Prita gagal.”, ungkapnya seperti dikutip Majalah Tempo Edisi 20-26 februari 2012. Merlyna Lim mengatakan bahwa kelas menengah di Indonesia baru tertarik berpartisipasi dalam gerakan politik bila resikonya kecil. Mengklik setuju di internet itu resikonya kecil, tapi berunjuk rasa di jalan dan berhadapan dengan aparat itu beresiko besar.

Hal ini berlawanan dengan yang terjadi di Malaysia di mana kelas konsumen baru turut berperan aktif dalam dunia politik. Tren ini ditandai dengan perhimpunan Bersih 2007, tsunami politik pilihanraya Mac 2008, perhimpunan Bersih 2.0 dan baru-baru ini Himpunan Hijau 2.0 di Kuantan. Berdasarkan kajian Pew Global Attitudes Survey yang termuat di laman web The Economist tanggal 3 September 2011 dengan judul, “The new middle classes rise up”, lebih 60 persen reponden kelas menengah di Malaysia mendukung demokrasi mengatasi kelas berpendapatan rendah dengan selisih sekitar 10 persen. 

Budiarto Shambazy, Redaktur Senior Harian Kompas dalam tulisannya setuju ketika mengulas perhimpunan Bersih 2.0, “Gelombang ketidakpuasan yang terjadi di Malaysia kemarin (Sabtu, 9/7) digerakkan oleh kelas menengah. Itulah sebabnya sulit membayangkan gelombang ketidakpuasan seperti itu menjalar ke Indonesia. Dibandingkan dengan negara lain di Timur Tengah, Maghribi (Afrika Utara), Malaysia juga Thailand, kelas menengah Indonesia tergolong terbelakang.”

Sementara, survey Kompas Desember 2011 menunjukkan bahwa tingkat kekritisan sebagian besar kelas menengah semakin rendah seiring dengan ruang lingkup problem di masyarakat. Artinya, semakin berat isunya, semakin acuhlah manusianya. Hal ini, merujuk kumpulan artikel LP3ES dan CIDES mengenai kelas menengah era Orde Baru, bukanlah fenomena yang baru, melainkan sifat yang melekat akibat kepentingan dan kesempatan yang inheren pada kelas menengah. Kelas menengah Pasca-Soeharto telah begitu menjulang. Kenyang dikuliti karena apatisme politik dan pragmatisme konsumsi, kelas menengah masih menyimpan berlapis mitos yang belum dikupas hingga sekarang. Salah satunya adalah tabiat berbudaya dari kelas ‘bumper’ ini. (dikutip dari tulisan M.Fajri Siregar berjudul ‘Para Priyayi Baru’)

Kurnia C Effendi dalam tulisannya yang berjudul Mempersoalkan kelas menengah baru, mengatakan bahwa simbol kelas menengah terhadap politik mengabarkan politik kita itu gadget. Substansi pesan politik sudah tidak dipentingkan lagi. Justru penampilan fisik si politisi menjadi komoditas. Ini menjelaskan banyaknya politisi yang menyewa PR ketika berkampanye. PR bertugas memastikan politisi berpenampilan bagus. Maka dari itu politik kita saat ini adalah politik kelas menengah. Disisi lain, jumlah kelas menengah juga akan meningkatkan kualitas demokrasi bagi Indonesia. Salah satu problem demokrasi adalah pemilih yang tidak melek politik, tidak mengikuti berita politik dan hanya mendukung satu orang yang diamati.
sumber: vivanews.com; themalaysiainsider; marketeers.com; tempo.co

1 comment:

fanny juliati ramali said...

sptnya sy masuk kategori the climber :D

Powered by Blogger.