Header Ads

Tips Meramu Fakta dalam Fiksi


RESENSI NOVEL PEMENANG IV SAYEMBARA NOVEL DKJ 2014/ 2015

Judul                 : Puya ke Puya

Pengarang        : Faisal Oddang

Penerbit            : Kepustakaan Gramedia Populer

Cetakan             : Pertama, Oktober 2015

Tebal                 : xii + 218 halaman

ISBN                 : 978-979-91-0950-7

foto: Vivi Al-Hinduan

Di antara tema yang selalu menarik perhatian juri sayembara novel DKJ, adalah yang bermuatan lokalitas. Novel Puya ke Puya karya Faisal Oddang ini adalah novel pemenang keempat sayembara novel DKJ tahun 2014/ 2015. Berlatar budaya Toraja yang ada di daerah Sulawesi Selatan. Mengangkat tema tentang ritual Rambu Solo sebagai ritual mengantarkan arwah bangsawan Toraja ke surga tersebut merupakan kepercayaan masyarakat yang ada sampai saat ini. Novel ini mengangkat tokoh utama bernama Allu Ralla yang mempertanyakan sesuatu hal yang paling dasar. Mengapa adat harus mengekang bagi yang tidak mampu? Apa pengaruh adat terhadap manusia?  Contoh dalam sebuah dialog antara Allu dan ambenya:

“… Bukankah adat tidak boleh kaku? Batu saja bisa dipahat, masa iya adat harus terus menjadi bongkahan batu, Ambe?” ujar Allu.

Kekayaan yang dimiliki novel ini adalah teknik cara berpindahnya sudut pandang. Setiap tokoh dalam novel ini, baik Rante Ralla sebagai mayat, Allu Ralla dan Tina Ralla istri kepala adat, atau Maria Ralla, adik Allu yang meninggal saat bayi. Maria Ralla sebagai arwah bayi yang dikubur di dalam tubuh pohon Tarra; dapat memiliki karakter sebuah sudut pandang yang khas antartokoh. Bahkan, Maria juga jatuh cinta dengan sesama arwah bayi bernama Bumi.


foto: Vivi Al-Hinduan

Kisah dalam novel ini berawal dari kematian Rante Ralla, seorang pemimpin adat di Desa Kete’. Kematian tersebut bisa dibilang membawa banyak persoalan bagi keluarga yang ditinggalkan, khususnya Allu Ralla yang merupakan keturunannya.


Di dalam perspektif yang menginginkan adanya moralitas, Allu Ralla melakukan penghianatan. Ritual Rambu Solo yang suci menjadi ternodai dengan berhianatnya Allu kepada para leluhur. Di dalam perspektif yang lain tokoh Allu telah melakukan kebenaran. Pemberontakannya terhadap adat yang mengekang sekurang-kurangnya memberikan perenungan filosofis bahwa rambu solo dilakukan hanya karena ingin dipuja masyarakat.


Dikisahkan, Allu Ralla adalah seorang mahasiswa jurusan Sastra di sebuah kampus yang ada di Makassar. Ayahnya bernama Rante Ralla merupakan kepala adat di Toraja. Rante Ralla meninggal dunia. Rante Ralla tidak sempat mengumpulkan banyak harta sebelum kematiannya tiba. Allu selaku ahli waris yang sah ayahnya didesak pulang dari Makassar untuk melakukan rambu solo. Allu tidak mau tunduk pada adat. Mayat ayahnya akan dikuburkan di Makassar. (hal. 10).

Kematian Rante Ralla, sang ketua adat Kampung Kete’ di tanah Toraja, memerlukan biaya sangat besar untuk upacara mengantarkan mayat (rambu solo) ke alam tempat menemui Tuhan (puya). Ketua adat harus diupacarakan besar-besaran, dipotongkan puluhan kerbau dan ratusan ekor babi demi derajat. (hal. 12).

Konflik bermula saat Allu Ralla, putra satu-satunya menolak mengadakan upacara, dan menyarankan agar ayahnya dimakamkan di Makassar. Allu Ralla hanya memiliki tabungan untuk membiayai pemakaman sederhana. Tidak cukup untuk mengupacarakan bangsawan sekelas ayahnya (hal. 17). Bagi Allu, kebudayaan adalah produk manusia, dan relevansi dengan zaman sangatlah penting. Jika sudah tak relevan, tidak perlu dipertahankan (hal. 21). Rencana itu ditentang keluarga besar sehingga mayat Rante Ralla tak kunjung diupacarakan.

Selain tidak ada uang untuk melakukan Rambu Solo, adat yang hanya membebani manusia menurut Allu. Adat seharusnya tidak mengekang dan menyesuaikan keadaan. Dengan keputusan yang diambil Allu, para kerabatnya tidak setuju; ibu dan paman Marthen tidak sepakat. Alasannya, tak ada ceritanya bangsawan pelit. Rante Ralla adalah kepala adat. Keputusan yang dipilih Allu hanya akan membuat wajah kerabatnya tercoreng. (hal. 33).

Konflik lain muncul dengan masuknya perusahaan tambang di Tanah Toraja. Pengusaha hendak membeli tanah warisan milik Rante Ralla karena dianggap menghalangi akses menuju lokasi tambang (hal. 40). Pihak perusahaan bahkan telah membujuk Rante Ralla sejak dia masih hidup namun bersikukuh tak akan menjualnya.  


Sepeninggal Rante Ralla, pihak perusahaan berusaha membujuk keluarganya. Salah satu anggota keluarga, yaitu Paman Marthen menyetujuinya dengan alasan uang penjualan akan digunakan untuk membiayai upacara rambu solo. Namun Allu Ralla menolaknya dengan tegas. (hal. 49).

Tak kehilangan akal, pihak perusahaan tambang yang bersekongkol dengan kepala desa, memasang siasat dengan menyuruh Malena, anak kepala desa untuk merayu Allu Ralla. Malena adalah wanita yang dicintai Allu Ralla sejak lama. Malena mengajak Allu Ralla menikah. Permintaan itu disambut gembira oleh Allu Ralla, yang kemudian mengabarkan kepada ibunya Tina Ralla. Namun sang ibu melarang Allu menggelar rambu tuka, atau upacara kesenangan semacam pernikahan. Pemakaman Rante Ralla harus diselesaikan terlebih dulu. (hal. 99).

Dengan banyak pertimbangan dan sebuah rahasia, rambu solo untuk Rante Ralla dilaksanakan. Pertama, Allu menjual tanah tongkonan milik leluhurnya yang dari turun temurun dipertahankan kepada perusahaan tambang. Kedua, Allu didesak menikah oleh pacar pertamanya bernama Malena, walaupun modal pernikahannya diambil dari uang mencuri mayat bayi di pohon tarra. (hal. 109).

Tak ada jalan lain bagi Allu Ralla, selain berusaha mengumpulkan uang untuk membiayai pemakaman ayahnya dan pernikahannya nanti. Allu Ralla kemudian menyetujui permintaan pengusaha tambang untuk mencuri mayat bayi dengan imbalan puluhan juta rupiah. Di Toraja, bayi yang meninggal tidak langsung dikuburkan, melainkan disimpan dalam makam pada batang pohon, atau disebut passiliran. Saat galian tambang runtuh dan memakan korban, masyarakat setempat percaya bahwa untuk menghentikannya adalah dengan menguburkan mayat bayi di pusat tambang.  Bayi dianggap makhluk suci, sehingga bisa membuat tanah menjadi suci dan mencegah kemarahan penunggu lahan (hal. 113).

Allu Ralla diam-diam juga menjual tanah warisan kepada pihak tambang. Rasa bersalah karena telah menelantarkan mayat ayahnya, akhirnya membuat Allu Ralla berniat menebusnya dengan menggelar upacara yang paling sempurna. Dia akan mengadakan rapasan sundun atau tingkat pemakaman tertinggi (hal. 122).

foto: Vivi Al-Hinduan

Rapat keluarga digelar. Persiapan rambu solo segera dilaksanakan. Namun tepat pada hari upacara, pihak perusahaan tambang datang dengan alat berat untuk meratakan tanah. Secara hukum, pihak keluarga Rante Ralla akan kalah jika tidak mengizinkan. Keluarga pun menggelar rapat. Tina Ralla akhirnya membeberkan rahasia yang selama ini ia simpan, bahwa penyebab kematian Rante Ralla karena diracun orang-orang tambang (hal. 188).

Terbongkarnya rahasia menyulut kemarahan keluarga juga sebagian besar warga Kampung Kete’. Mereka kemudian beramai-ramai membakar lokasi penambangan. Situasi menjadi kacau. Konflik terbuka antara warga Kampung Kete’ dengan pihak tambang pun tak terhindarkan (hal. 204).

Malang tidak bisa ditolak, lahir sebagai keturunan bangsawan, maka saat mati pun harus memiliki tempat tertinggi, dengan upacara kematian paling sempurna. Mengorbankan puluhan kerbau dan ratusan babi, yang diharapkan bisa menjadi tunggangan dan pengiring saat berjalan ke puya. Ke surga.

Untuk merayakan kematian tersebut, sudah pasti memerlukan dana yang sangat besar. Hal itulah yang membuat Allu Ralla dan keluarganya susah, karena Rante tidak meninggalkan harta yang banyak. Sebagai mahasiswa di Makassar, dan telah terpapar modernitas, Allu berinisiatif untuk menguburkan ayahnya di Makassar, tanpa adat. Lebih hemat, tidak perlu menghamburkan uang banyak.

Namun, ide tersebut ditolak mentah-mentah oleh keluarga Ralla. Mereka menganggap hal itu bisa mencoreng nama baik mereka sebagai bangsawan. Selain itu, mereka yakin tanpa adanya upacara kematian maka Rante Ralla tidak akan pernah sampai ke puya.

Menghadapi banyak problema, membuat Allu harus putar otak demi mempertahankan ide-nya, atau mencari uang untuk mengupacarakan ayahnya. Dari sini, kisahnya berlanjut hingga polemik dengan perusahaan tambang yang ingin menguasai tanah warisan keluarga Ralla, hingga kisah asmara Allu dan intrik picik yang mengantarkan Desa Kete’ harus ‘diadzab’ oleh para leluhur di puya.

Hal yang paling kentara adalah novel ini memiliki latar kebudayaan Toraja yang sangat kuat, tentang adat Rambu Solo: pesta kematian — yang selama ini menjadi daya tarik utama Tana Toraja –, serta bagaimana kritik terhadap budaya leluhur itu muncul di zaman modern.

Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini karena ide cerita yang diangkat, serta gaya bahasa yang digunakan sangat beragam seiring dengan penokohan yang dihidupkan. Bagaimana gaya bahasa dan pilihan kata yang digunakan saat Allu Ralla ambil bagian, berbeda dengan saat Maria Ralla ditampilkan. Melalui novel ini, saya mendapat info sangat lengkap tentang budaya Toraja yang sangat unik dan mistis.

Selain sedikit typo yang agak menggangu, hal lainnya yang cukup mengganggu saya adalah kesan penulis yang ingin tampak pintar dengan menyisipkan info-info yang kurang relevan dan terlalu jauh. Misalnya, saat Allu tengah memimpin rapat keluarga tentang pelaksanaan rambu solo untuk ayahnya, penulis memaksa untuk menyisipkan info tentang Operasi Overlord tahun 1944. padahal info itu tidak nyambung dengan isi cerita.

Dengan cara bertutur yang unik dan keragaman perspektif, novel ini mampu mengangkat persoalan lokal berlatar budaya Toraja pada dimensi yang lebih luas.  Pergantian PoV pencerita antara tokoh yang hidup maupun yang sudah mati secara lancar menjadi salah satu poin plus. Novel ini membuka wawasan pembaca bahwa keteguhan terhadap tradisi juga perlu dicermati agar tidak menimbulkan pergesekan dengan kehidupan sosial dan modernisasi.

Puya ke Puya adalah novel terlengkap tentang Toraja yang pernah saya baca. Novel ini membuat saya ingin plesir ke Toraja. Dan yang sangat menarik adalah, novel ini secara cerdas menyelipkan fakta di dalam fiksi dan tidak terkesan seperti sedang membaca buku HPU (Himpunan Pengetahuan Umum). Fiksi dan fakta dalam Puya ke Puya sangat berbaur. Fakta dan setting cerita sama sekali bukan tempelan yang sekedar hadir agar ada nuansa lokalitasnya.

Simpulan

Setting tempelan adalah setting (atau latar, profesi, dan sebagainya) yang hadir dalam sebuah cerita hanya sebagai pelengkap. Jika diganti dengan setting, latar, atau profesi yang berbeda, maka sama sekali tidak akan memengaruhi jalannya sebuah cerita fiksi. Para penulis pemula banyak yang terjebak membuat setting dan latar tempelan.

Sementara dalam novel ini, ritual adat Rambu Solo' benar-benar menjadi 'roh' dalam novel. Jika  kita menggeser setting dari Toraja ke Minahasa atau Papua misalnya, maka jalan cerita akan berubah total. Kenapa?  karena di kedua tempat tersebut tidak dikenal istilah Rambu Solo. 

5 comments:

irfan fauzi said...

wahhh resensinya padat jelas keren lagi... di tunggu ya postingannya selanjutnya,,,.. bisa di buat baca2 kalau ada waktu senggang


www.hijabmodernkeren.com

tukangjalanjajandotcom dodon_jerry said...

buku yang menarik untuk di baca. ntar mau nyoba nyari ke perpustakaan ah. mdah mudahan ada

fadhil mahdi said...

Penasaran sama arti judulnya. Puya ke Puya. Apa artinya kak ..?
Sama kak, sy juga suka sama fiksi yg based on true story. Di deliver dengan fiksi. Jadi mudah di cerna otak. Hehe.

Book Blogger.
www.katamahdi.wordpress.com

Vivi Al-Hinduan said...

@dodonjerry: di toko buku yg di dalam mall itu ada jual, om jerry :) kalo di perpus kurang tau

@fadil: Puya artinya surga. novel ini bukan based on true story, tapi rekaan. cuma fakta tentang upacara Rambu Solo, bayi dimakamkan di pohon, itu fakta

rizal komarudin said...

Resensinya membuat pembaca bisa memahami isi buku secara singkat

Powered by Blogger.